Kebijakan Impor Pangan yang Salah Merugikan Petani, Ini Alasannya

Sektor Riil
39
0
sample-ad

Indonesiaoke.com Jakarta – Awal tahun 2018 lalu, Pemerintah membuka keran impor beras sebanyak 500 ribu ton. Bukan hanya beras sebetulnya, seluruh komoditas pangan pun diimpor. Kebijakan Impor pangan ini dikritik Pengamat Ekonomi Rizal Ramli.

Ia menilai jika memang harus mengimpor bahan pangan itu harus juga dilihat waktunya. Dan, kebijakan impor di awal tahun menurutnya bukan waktu yang tepat.

“Kalau perlu banget, saya juga tidak keberatan impor, tapi diatur-lah timing-nya. Waktu paceklik baru impor. Anak SD juga ngerti, masa menterinya harus diajarin anak SD,” ujar Rizal, belum lama ini.

Dengan kata lain, pemerintah mengimpor saat petani lokal justru panen hasil tanamnya. Kebijakan itu tentu menyebabkan harga anjlok dan merugikan para petani yang sejak lama menantikan hasil tanamnya.

Ia menyontohkan, hal itu terjadi di Brebes beberapa bulan lalu. Pemerintah memutuskan impor bawang justru ketika menjelang masa panen. Alhasil, harga bawang anjlok. Kemudian, saat panen selesai, impor malah berkurang, sehingga harga naik sekitar Rp10.000.

Begitu pula yang terjadi dalam kebijakan impor gula saat panen tebu, dan impor beras justru menjelang panen pada kuartal pertama tahun 2018 ini. 

“Kalau impor karena cuaca dan lain-lain saya setuju, tapi tidak kalau kelangkaan ada dengan alasan yang dibuat-buat,” ujar Rizal.

Tak hanya soal waktu yang tidak tepat, mantan Menko Kemaritiman ini juga menunjuk Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita sebagai pihak yang mengambil keuntungan dari impor bahan pangan, tak hanya beras.

Ia bahkan meminta Presiden Joko Widodo untuk memberhentikan Enggartiasto Lukita sebagai Menteri Perdagangan karena dianggap mengganggu stabilitas ekonomi Indonesia seiring maraknya impor pangan bahan pangan.

Rizal menuding Menteri Perdagangan itu mengusulkan pembukaan keran impor agar dapat memperoleh keuntungan dari sana.

Pasalnya, harga pangan yang diimpor ke Indonesia dua kali lipat lebih mahal dibandingkan harga pangan di negara lain. Pihak yang memperoleh kuota impor pangan tentu akan mendapat untung besar. Jadi, ada pihak-pihak yang sedang mencari dana. (vin)

sample-ad

Facebook Comments