Jokowi : Saya Kepala Negara Pertama yang Kunjungi Pengungsi Rohingya di Cox’s Bazar

Nasional
36
0
sample-ad

Indonesiaoke.com, Ambon – Pada bagian lain pidatonya saat membuka Kongres ke-30 Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), di Universitas Pattimura, Ambon, Maluku, Rabu (14/2/2018) pagi, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengemukakan, kepedulian pemerintah tidak hanya terhadap masalah-masalah di dalam negeri, tetapi juga terhadap saudara-saudara di Negara sahabat.

“Kita terus membantu perjuangan saudara-saudara kita di Palestina melawan penindasan dan ketidakadilan,” kata Presiden Jokowi.

Menurut Kepala Negara, tahun 2016, Indonesia menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Luar Biasa OKI (Organisasi Kerjasama Islam) yang membahas membahas tentang Palestina dan Al Quds. Selain itu, Indonesia juga telah membuka konsulat kehormatan Republik Indonesia di Ramallah, Maret 2016.

Pemerintah, lanjut Kepala Negara, juga mendorong penyelenggaraan KTT Luar Biasa OKI di Istanbul, Turki pada bulan Desember 2017 yang lalu, yang menentang pengakuan sepihak Amerika Serikat terhadap Yerusalem sebagai Ibukota Israel.

“Dalam menyelenggarakan KTT tersebut, KTT Luar Biasa di OKI misalnya, hampir tiap malam saya telepon misalnya Syekh Muhammad di Uni Emirat Arab, Presiden Turki Presiden Erdogan, kemudian pemimpin-pemimpin Timur Tengah yang berkaitan dengan Palestina. Juga termasuk presiden Mahmoud Abbas, kalau saya tidak keliru mungkin telepon dua kali kepada beliau karena memang KTT Luar biasa itu sangat diperlukan untuk meneguhkan kembali betapa perjuangan rakyat Palestina untuk merdeka itu masih perlu kita berikan dukungan penuh,” ungkap Presiden Jokowi.

Sementara pada Januari 2018 lalu, Presiden Jokowi menyapaikan, dirinya berkunjung ke Srilanka, Pakistan, Bangladesh, dan ke Afghanistan.

Di Bangladesh, Presiden mengaku mengunjungi Cox’s Bazar, lokasi pengungsi rohingya dari Myanmar, yang kondisinya sangat memprihatinkan sekali.

“Saya adalah kepala negara pertama yang mengunjungi Cox’s bazar. Ini adalah komitmen kita untuk kemanusiaan, komitmen kita untuk perdamaian dunia, dan komitmen kita untuk saudara-saudara kita sesama muslim,” tegas Presiden Jokowi.

Tidak Takut

Sementara di hari berikutnya, Presiden Jokowi pergi ke Kabul, Afghanistan ke Kabul, dimana 8 (delapan) hari sebelumnya ada bom yang menewaskan 20 orang. Lalu, (dua) hari sebelum dirinya mendarat di Kabul, menurut Presiden, ada bom lagi yang menwaskan 103 orang. Bahkan 2 (dua) jam sebelum dirinya mendarat di Kabul, markas Akademi Militer di Kabul diserang dan menewaskan 5 orang dan belasan luka-luka.

“Ada yang bertanya ke saya, Presiden Jokowi nggak takut? Enggak takut. Ada yang yang bertanya nggak takut? Enggak takut,” kata Presiden Jokowi seraya menambahkan, data mendarat dari airport menuju ke Istana Presiden itu dikawal banyak tank.

Di setiap g, lanjut Presiden, ang ada tank, tank, tank semua. “Kenapa harus takut. Enggak takut saya. Bismillah saja saya sudah,” ujarnya.

Presiden Jokowi mengaku dirinya takut justru saat mendarat dan saat mau naik. “Takut saya di situ. Kalau pas di darat ndak, karena kanan kiri dari airport itu bukit-bukit semuanya, Gampang sekali diginikan (diroket maksudnya),” ucapnya.

Walaupun saat itu banyak dicegah alasan keamanan, Kepala Negara menyampaikan tetap jangan sampai yang sudah kita rencanakan ini kita batalkan.

“Saya ingin menegaskan pentingnya perdamaian, pentingnya toleransi, pentingnya persaudaraan, pentingnya persatuan,” jelas Presiden Jokowi.

Tampak hadir dalam kesempatan itu antara lain Mensesneg Pratikno, Menristekdikti M. Nasir, Ketua DPD RI Oesman Sapta, Ketua MPR Ri Zulkifli Hasan, dan Presidium KAHMI Akbar Tanjung. (nwi)

sample-ad

Article Tags

Facebook Comments